Analisis Jurnal Fundamentalis dan Radikalis Islam Di Tengah Kehidupan Sosial Indonesia
1. Judul Jurnal
Fundamentalisme dan Radikalis Islam Di Tengah Kehidupan Sosial Indonesia
2. Kata Kunci
Fundamentalisme Islam; Radikalisme Agama; Masyarakat Indonesia.
3. Penulis Jurnal
Muslim Mufti, M. Taufiq Rahman
4. Latar Belakang Masalah
Indonesia telah dituding oleh berbagai pihak sebagai salah satu sarang bagi operasi kaum teroris yang harus diwaspadai. Insiden Bom Legian Bali 12 Oktober 2002 yang kemudian diiringi dengan penangkapan dan peringkusan puluhan orang yang kemudian didakwa terlibat tindak terorisme, semakin menegaskan indikasi ke arah tersebut.
Fundamentalisme Islam saat ini kiranya menjadi isu paling banyak menarik perhatian kalangan luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan begitu, fundamentalisme Islam, dengan segera saja menjadi idiom paling populer dan sekaligus terkontruksi sebagi musuh (enemy) kehidupan umat manusia yang sudah seharusnya dienyahkan keberadaannya. Apalagi kebanyakan kelompok-kelompok yang dikaitkan dengan fundamentalisme ini umumnya merupakan bagian dari penentang pemerintah yang berkuasa. Sebagaimana berbagai pencitraan yang tidak selalu tepat, pemakaian istilah fundamentalisme untuk mendiskripsikan atau identifikasi terhadap gerakan-gerakan Islam yang menganut arus tertentu, juga tidak luput dari berbagai problematika serius. Salah satu persoalannya ialah bahwa terma fundamentalisme lahir dalam suatu konteks kebudayaan dan agama yang spesifik, yakni pengalaman Kristen.
5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai motif-motif dan kesempatan dari fundamentalisme dan penyebaran radikalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar dapat mencegah tersebarnya paham tersebut di Indonesia.
5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai motif-motif dan kesempatan dari fundamentalisme dan penyebaran radikalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar dapat mencegah tersebarnya paham tersebut di Indonesia.
6. Metode Penelitian
Studi peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. penggunaan metode kualitatif ini didasarkan atas tiga pertimbangan. Pertama, lebih mudah menyesuiakan dengan kenyataan faktual. Kedua, kemampuannya dalam menyajikan hakikat hubungan antara peneliti dengan informan/responden. Ketiga, lebih peka dan adaptif terhadap pola pola nilai. Dalam pendekatan kualitatif ini fokus perhatiannya adalah pada realitas sosial yang selalu berubah dan merupakan hasil konstruksi sosial yang berlangsung antara pelaku dan institusi sosial.
7. Hasil Penelitian
Istilah fundamentalisme dalam pandangan Martin van Bruinessen, mengimplikasikan suatu peneguhan kembali atas kebenaran kepercayaan sebagaimana ada dalam kitab suci Bibel, yang kembali ditegakkan dalam rangka menghadapi serangan gencar ilmu pengetahuan sekuler, terutama dalam menghadapi teori evolusinya Darwin. Namun, ketika terma yang bermakna spesifik ini dicoba untuk ditransfer kepada fenomena historis, kultural dan keagamaan yang berlainan dengan konteks dimana istilah ini dilahirkan, ternyata menimbulkan beberapa kesulitan tertentu.
Studi peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. penggunaan metode kualitatif ini didasarkan atas tiga pertimbangan. Pertama, lebih mudah menyesuiakan dengan kenyataan faktual. Kedua, kemampuannya dalam menyajikan hakikat hubungan antara peneliti dengan informan/responden. Ketiga, lebih peka dan adaptif terhadap pola pola nilai. Dalam pendekatan kualitatif ini fokus perhatiannya adalah pada realitas sosial yang selalu berubah dan merupakan hasil konstruksi sosial yang berlangsung antara pelaku dan institusi sosial.
7. Hasil Penelitian
Istilah fundamentalisme dalam pandangan Martin van Bruinessen, mengimplikasikan suatu peneguhan kembali atas kebenaran kepercayaan sebagaimana ada dalam kitab suci Bibel, yang kembali ditegakkan dalam rangka menghadapi serangan gencar ilmu pengetahuan sekuler, terutama dalam menghadapi teori evolusinya Darwin. Namun, ketika terma yang bermakna spesifik ini dicoba untuk ditransfer kepada fenomena historis, kultural dan keagamaan yang berlainan dengan konteks dimana istilah ini dilahirkan, ternyata menimbulkan beberapa kesulitan tertentu.
- Pertama, secara doktrinal, Islam memiliki perbedaan-perbedaan yang mendasar apabila dibandingkan dengan ajaran dan tradisi Kristiani.
- Kedua, mereka sangat menekankan kekhususan Islam.
- Ketiga, kaum fundamentalis cenderung tidak mau berkompromi terhadap persoalan-persoalan minoritas nonmuslim.
- Keempat, lebih dari pada yang lain, kaum fundamentalis atau radikal Islam menekan atau mendorong sangat perlunya penerapan syari’at dalam praktek kehidupan. Syariah tidak hanya suatu ideal yang dikenalkan dan di-ta’zhimi (revered) tetapi suatu hukum yang dibuat untuk diberlakukan dan ditaati.
- Kelima, kendatipun, kaum fundamentalis menekankan kesadaran kepada autentisitas atau keaslian, mereka sebenarnya modern dan menerima banyak hal yang baru yang merupakan pinjaman dari Barat.
- Keenam, kaum fundamentalis pada kenyataannya menerima gagasan (ide) tentang kemajuan
8. Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat dicatat dari menularnya sikap fundamentalis dan radikalis di kalangan anak muda Indonesia, yaitu: tidak adanya kredibilitas visi nasional sekuler dan kurangnya sarana-sarana efektif untuk membentengi gangguan dari luar, untuk meningkatkan prospek ekonomi saat ini. Sebaiknya ke depan kelompok masyarakat menengah dan atas untuk menggembleng impian dari kaum muda terdidik dan memberikan kepada meraka perasaan menjadi bagian yang penting dari grand design cita-cita nasional dan kemanusiaan.
Leave a Comment